Si Kecil Komersil


Sebagai seorang yang memiliki 3/8 darah tiong hoa dalam tubuh saya, tentu sedikit banyak saya mewarisi bakat berdagang ala nenek saya.

Kisah ini bermula ketika saya masih duduk di kelas 1 SD. Saya yang masih terbilang muda, bahkan mungkin paling muda di kelas (umur 5 tahun 4 hari masuk SD), membawa hasil kreasi teteh saya ke sekolah berupa kertas karton bertuliskan nama saya dengan huruf2 gemuk yang lucu-lucu berwarna merah dan hijau. Ternyata nama-nama ini menarik perhatian teman-teman saya. Maka saya yang ternyata dari kecil udah muncul otak komersilnya mulai menawarkannya kepada teman-teman.😀 Mulailah saya mengurut daftar pesanan nama teman-teman saya. Di rumah, teteh saya yang buat, dan saya berhasil menjualnya bak kacang goreng seharga 50, 75, sampai 150 tergantung panjangnya nama.

Kisah berlanjut, banyak yang pernah saya jual. Jika ada pelajaran kesenian, meja saya paling laris, karena saya menjual kertas tauco alias kertas lipat dengan harga di bawah standar (ya iyalah.. orang saya ga pake modal koq.. udah dibeliin sama ibu se-pack :D).

Di kelas 5 SD, saya menemukan sorang partner, sama-sama berdarah keturunan juga. Kami mulai iseng-iseng membuat buku note untuk kotretan dari kertas buram, lalu kami jual. Kami juga mencoba membeli pernak pernik seperti jepit, bando, dan ikat rambut di toko milik salah satu sodara teman saya itu, dan kami kembali dengan sukses berhasil menjualnya. Lalu kami beralih menjadi produsen. Kami membuat pernak pernik seperti cincin, gelang, kalung dan bando dari mute. Pemasaran kami pun semakin luas karena saya mempunyai tetangga yang juga adik kelas saya.😀

Kelas 6, saya sering membuat dompet kertas kado. Saat itu, dompet seperti itu menjadi tren dan banyak peminatnya. Membuatnya pun cukup mudah menurutku. Saya sempat menerima beberapa pesanan dompet, dan saya pun masih menggunakan dompet yang sama sampai saya menikah.

SMP kelas 1, saya kembali menjual barang-barang produksi teteh saya. Kali ini ikat rambut dari benang wol. Saya juga sempat menjadi distributor permen pelega tenggorokan. Kelas 2 dan 3 saya vakum, ga pernah jualan apa-apa lagi.

Masuk SMA, saya jualan lagi. Walaupun sekarang ini keuntungannya saya gunakan untuk kepentingan acara kelas. Saya jualan molen. Dulu saya nyebutnya molen Bandung soalnya modelnya kaya molen pastri produk K****** S*** dari Bandung itu lho. Saya jualan  pagi-pagi sebelum bel berbunyi. Jualan dari kelas ke kelas, dari 1-1 sampai 1-9 (belom berani cuy jualan ke kakak kelas). Hingga bel berbunyi, maka keranjang saya hampir selalu kosong. Senaaang sekali rasanya walaupun kadang kena teguran juga dari guru-guru.

Kelas 2, saya jualan permen lolipop, sama coki coki, dan astor-astoran. Kebetulan saat itu saya mendapat tugas mata pelajaran ekonomi untuk menabung. Saya dan teman sekelompok saya, memanfaatkan tabungan kami itu sebagai modal. Keuntungan yang didapat kami putar lagi untuk modal. Waah.. ternyata otak saya emang udah komersil dari kecil yah.. hihii..

Tapiii… saya ga matre lho. Berhubung saya terlahir dari keluarga sederhana, yang beli buku pelajaran aja ga pernah, yang seragam sekolah aja bekas, maka saya udah biasa hidup susah. Ga terlalu mikirin keinginan-keinginan yang bukan kebutuhan. Buktinya saya aja masih mau nikah sama orang yang saat itu belum punya apa-apa (hehe.. luv u ay..).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s