Posted in Live, My Baby

Jujur Itu HEBAT

Dalam kamus hidup saya, mengajarkan kejujuran kepada anak-anak adalah hal yang sangat penting. Sering saya melihat banyak orang yang dengan mudahnya mengucapkan suatu kebohongan, memanipulasi data, menerobos antrian, membuang sampah sembarangan, masalah utamanya adalah kejujuran. Mereka tidak bisa jujur terhadap dirinya sendiri. Dan hal ini mungkin yang diajarkan orang tuanya, atau dia lihat dari lingkungannya sehingga dia merasa hal itu adalah biasa.

Satu hal saya alami kemarin saat menemani kaka lomba mewarnai. Ketika kertas bergambar mulai dibagikan, anak-anak dibolehkan untuk menulis nama dan identitas lainnya, namun belum diijinkan untuk memulai mewarnai. Saya lihat satu anak (kebetulan posisinya deket kaka) mulai menggambar di kertas miliknya lalu dia tutupi dengan handuk (anak lomba mewarnai biasanya membawa handuk kecil agar gambar tidak kotor). Dia melakukannya terus sampai ketahuan oleh panitia dan panitia menukar kertasnya dengan kertas baru. Saya pikir anak ini akan sadar. Ternyata dia mengulangi lagi hal yang sama. Miris dalam hati saya. Saya bertanya-tanya kemanakan orang tuanya? Ibunya berjilbab. Tapi dia sama sekali tidak menegur apa yang dilakukan anaknya yang menurut saya itu salah besar. Untunglah sesaat sebelum lomba dimulai, panitia melihatnya dan menukar kertasnya lagi.

Anak itu masih TK, tapi sudah berinisiatif untuk mencuri start. Sempat terpikir untuk melakukan hal yang sama, bantu menggambarkan kertas mewarnai kaka. Tapi pikiran itu langsung saya tepis. Efeknya jangka panjang. Si anak yang masih TK ini akan merekam apa yang saya lakukan, dan menganggap itu hal yang biasa. Perkara menang atau kalah itu urusan belakangan menurut saya. Yang terpenting, saya harus mengajarkan kejujuran dan sportivitas kepada anak-anak saya.

Ada lagi cerita lain, saya melihat anak yang menggunakan cetakan gambar (yang mungkin sudah dibuatkan orang tuanya) dan dia menggunakan di awal-awal waktu lomba dimana kaka panitia masih sibuk dengan anak yang terlambat. Ingiinn rasanya lapor panitia, atau bikinin cetakan juga buat kaka untuk lomba lainnya. Tapi ya sudahlah.. biarkan Alloh yang membalasnya. Untuk apa menang dengan cara yang tidak sehat? Bukankah yang ingin kita ajarkan adalah iklim kompetisi..? Berani menerima kekalahan..? Mirisss..

Mereka masih TK. Masih panjaaaaang sekali jalan hidupnya.. Mereka terlahir seperti kertas putih yang polos dan orang tuanya lah yang bertugas memberi warna dalam hidupnya. Lalu, warna apa yang akan kita berikan pada anak kita..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s