Posted in Financial

Asuransi, Perlukah?

Apa sih asuransi itu? Menurut tante wiki, asuransi dalam hal hukum dan ekonomi adalah suatu bentuk dari manajemen risiko terutama digunakan untuk lindung nilai terhadap risiko kerugian kontingen. Secara sempit asuransi adalah sebuah sistem untuk merendahkan kehilangan finansial dengan menyalurkan risiko kehilangan dari seseorang atau badan ke lainnya.

Misalnya, kita punya rumah. Lalu untuk melindungi rumah kita tersebut, kita asuransikan rumah kita. Bila suatu saat terjadi apa-apa terhadap rumah kita seperti bencana alam, kebakaran, atau pengrusakan, maka kita akan mendapat ganti rugi dari perusahaan asuransi. Enak kan? Eits.. jangan senang dulu. Untuk mendapatkan ganti rugi itu, kita harus membayar uang “cicilan” yang disebut dengan premi. Besarnya tergantung kesepakatan di awal dan dibayarkan selama kontrak. Jika kontrak habis maka premi yang sudah kita bayarkan itu hangus. Hal ini biasanya juga berlaku untuk benda lainnya seperti mobil. Yaaa.. itung-itung bayar satpam.

Tak hanya benda yang dapat diasuransikan, jiwa juga bisa diasuransikan lho. Misal kita mengasuransikan jiwa kita selama kontrak yaitu sejak usia 25 hingga 55 tahun. Kita membayar premi setiap bulan. Jika jiwa kita “hilang”, maka keluarga (ahli waris -red) akan mendapatkan ganti rugi dari asuransi sebesar perjanjian yang telah tertera di kontrak. Iiihh.. serem yah. Jiwa kita udah kaya barang aja. Tapi bisanya untuk asuransi jenis ini, jika selama kontrak jiwa kita tidak “hilang”, maka uang premi yang selama ini kita bayarkan akan dikembalikan minimal 100%. Mengapa minimal 100%? Soalnya biasanya lebih. Lho koq bisa? Ya iyalah.. secara perusahaan asuransi memakai uang yang kita setorkan setiap bulan untuk berbagai macam usahanya. Sehingga keuntungan yang dia peroleh selama bertahun-tahun sudah pasti jauh lebih besar daripada “cashback” yang dikembalikan kepada nasabah.

Lain lagi dengan asuransi pendidikan. Asuransi bentuk ini tidak memberikan ganti rugi atas pendidikan yang hilang. Misal saya mengasuransikan pendidikan anak saya yang masih berumur 5 tahun selama 16 tahun sampai si anak berusia 21 tahun. Maka selama 16 tahun itu kita menabung “paksa” setiap bulannya. Saat anak berusia 21 tahun, uang yang sudah kita tabung, kita cairkan beserta dengan kelebihannya (kalau di deposito disebutnya bunga). Lah.. terus apa bedanya sama menabung secara konvensional? Bedanya, jika orang tua -dalam kasus ini saya- meninggal atau cacat tetap sehingga tidak produktif lagi, maka cicilan dilanjutkan oleh pihak asuransi atau bank yang sudah bekerja sama hingga kontrak usai.

Ada lagi produk asuransi yang disatukan dengan investasi. Di sebutnya unit link. Biasanya unit link ini menggabungkan antara asuransi kesehatan dengan investasi. Seperti biasa kita membayar premi setiap bulan. Jika suatu saat kita sakit dan harus rawat inap, maka pihak asuransi akan mengcover biaya perawatan sesuai dengan kontrak. Pada saat penutupan kontrak, dana nasabah akan dikembalikan. Biasanya unit link ini baru “balik modal” setelah 5 tahun. Balik modal ini maksudnya adalah premi yang kita bayarkan sama dengan “cashback” yang kita dapatkan.

Mengenai kehalalan asuransi, saya belum menelusuri lebih lanjut. Tapi menurut hemat saya, jika “cashback” yang kita dapatkan jauh lebih besar dari apa yang kita setorkan, apakah itu tidak termasuk riba? Kembali ke bagaimana sistem bagi hasil yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi tersebut. Saat ini banyak juga asuransi yang mengaku syariah dimana sistem yang digunakan adalah bagi hasil dengan nisbah sesuai dengan perjanjian. Cuma beda di niat boo..

Nah, kembali ke judul, perlu ga sih asuransi itu? Sebaiknya, kita kembali menghitung ulang seberapa besar keuntungan dan kerugian dari asuransi. Tanpa asuransi, kita bisa menginvestasikan dana premi kita. Kalkulasikan keuntungan dari investasi selama kontrak asuransi yang akan kita pilih, misal 30 tahun. Lalu bandingkan dengan cashback yang kita dapatkan dari perusahaan asuransi dalam 30 tahun ke depan. Hhhmm.. koq perhitungan saya lebih besar kalau kita ga ikut asuransi yah. Perhitungan setiap orang bisa saja berbeda. Karena itu cermatlah dalam memilih dan mengelola keuangan rumah tangga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s