Posted in Financial

Syariah vs Konvensional

Setelah menjelajah sana sini mencari tahu apa bedanya KPR versi konvensional dan versi syariah, akhirnya saya memutuskan untuk merangkumnya di sini.

Seperti sudah menjadi trend saat ini bahwa salah satu cara untuk bisa cepat mendapatkan tempat hunian adalah dengan mengajukan KPR kepada bank. Well, sampai saat ini saya belum berani untuk mengajukan KPR karena pertama memang belum menemukan rumah yang cocok, kedua memang masih bingung dengan sistem KPR itu sendiri, apakah menguntungkan atau merugikan.

Intinya KPR atau Kredit Pemilikan Rumah adalah pembayaran rumah dengan cara cicilan kepada Bank dengan harga yang tentu lebih mahal dari harga aslinya, dan bank yang membayar rumah kita tersebut kepada pihak developer atau pemilik rumah sebelumnya. Jadi, baik itu KPR dengan sistem konvensional atau pun syariah, harganya sama-sama lebih mahal daripada harga cash.

Sistem KPR konvensional kurang lebih sebagai berikut. Misal calon pembeli rumah telah deal harga dengan penjual rumah. Lalu karena calon pembeli rumah tidak mempunyai uang cukup untuk membayar, sedangkan penjual ingin mendapatkan hasil penjualannya secara penuh/cash, maka calon pembeli mengajukan KPR kepada bank konvensional. Lalu bank memberikan pinjaman dengan bunga sekian persen per tahun, mengikuti suku bunga. Biasanya ada beberapa bank yang memberikan promo seperti cicilan flat untuk 2 tahun, tapi setelah itu cicilan kembali akan mengikuti suku bunga. Menurut sumber yang saya baca, inilah yang disebut dengan riba. Di mana bank memberikan pinjaman, dan calon pembeli membayar bunga atas pinjaman tersebut. *ini ada hubungannya juga dengan mengapa bunga bank termasuk riba, karena bunga yang kita terima salah satunya diperoleh dengan cara seperti ini*

Sistem KPR syariah yang sesuai dengan tuntunan Islam adalah sebagai berikut. Setelah calon pembeli menentukan rumah pilihannya, lalu pembeli mendatangi bank syariah untuk mengajukan KPR. Bank syariah akan survey ke rumah yang dibeli tersebut, lalu bank menaksir harga rumah sesuai dengan jangka waktu cicilan yang akan kita ambil. Misalnya kita berniat untuk menyicil selama 15 tahun, maka bank akan menentukan harga sesuai dengan prediksi harga rumah di 15 tahun mendatang. Lalu bank melakukan akad jual beli dengan penjual. Setelah itu barulah bank menjual rumah tersebut kepada pembeli dengan harga yang telah diperkirakan tadi. Masih menurut sumber yang saya baca, sistem jual beli seperti inilah yang diperbolehkan. Karena harga jual yang sudah ditentukan, maka bank tinggal membagi sesuai dengan lamanya cicilan (15 tahun x 12 bulan). Jadi besarnya cicilan untuk KPR syariah ini flat, tidak tergantung dari suku bunga.

Dengan perbedaan yang telah dijelaskan di atas, tinggal kita menyesuaikan dengan budget yang kita punya. Jangan lupa untuk menyesuaikan juga dengan kemampuan cicilan kita tiap bulannya. Jangan tertarik dengan bunga rendah di awal, karena biasanya bank dengan bunga rendah di awal akan memberikan bunga yang jauh lebih mencekik di kemudian hari. Oke, selamat mencari pemberi modal.🙂 Kalau bukan kita sebagai muslim yang menerapkan prinsip syariah, siapa lagi yang mau menerapkan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s